logo
Berbagai informasi menarik tersedia disini!
Lautan Ilmu di Daratan Jawa
Lautan Ilmu di Daratan Jawa

Alhamdulillah wa Syukurillah senang rasanya bisa menyapa sobat semua setelah beberapa hari saya sibuk di dunia nyata. Bagaiman kabar sobat semua? Semoga selalu dalam keadaan yang sehat wal afiat tak kurang apapun. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan kisah dan profil seorang Alim Ulama'. Siapakah kiranya? Beliau adalah Kiai Sholeh Darat. Seperti apa dan bagaimana ceritanya? Langsung kita mulai saja ya!
Peran Kiai Sholeh Darat dalam menyebarkan Ilmu Islam di persada Nusantara tak bisa dianggap remeh. Murid-murid yang dididik beliau banyak yang menjadi Alim Ulama' dan mengasuh pesantren atau berdakwah di tengah masyarakat. Sebagian bahkan menjadi tokoh nasional yang menjadi motor kebangkitan Islam di tanah air. Wali yang hidup satu zaman dengan Syekh Nawawi Al Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan ini bisa disebut sebagai gurunya para Ulama' di Jawa.
Diantara murid-murid beliau adalah: KH. Hasyim Asy'ari (tokoh pendiri Jam'iyah Nahdhatul Ulama'), KH. Ahmad Dahlan (tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah), Syekh Mahfudh Tremas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Tremas), KH. Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamseran Solo), KH. Sya'ban (ahli Falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dan Keraton Surakarta, KH. Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol Muntilan), KH. Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH. Abdul Wahab Chasbullah (Tambak Beras Jombang), KH. Abbas Djamil (Buntet Cirebon), KH. Raden Asnawi (Kudus), KH. Bisri Syamsuri (Denanyar Jombang), dan lain-lainnya. Para Ulama' itu ada yang belajar dari Kia Sholeh Darat sewaktu masih di Mekkah, ada pula yang belajar di Semarang.
Kiai Sholeh Darat menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berdakwah. Selain mengajar masyarakat awam, beliau juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Diantara jama'ah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.
Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya pernah memarahinya lantaran bertanya mengenai arti sebuah ayat Al Qur'an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Sholeh Darat di pendopo Kabupaten Demak (yang Bupatinya adalah pamannya sendiri), Kartini sangat tertarik kepada Kiai Sholeh Darat. Saat ia sedang menerangkan tafsir Surat Al Fatihah.
Kartini lantas meminta Kiai Sholeh menerjemahkan Al Qur'an. Menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci bila tidak memahami maknanya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al Qur'an, sebagian Ulama' juga mengharamkannya. Namun Kiai Sholeh Darat termasuk orang yang menentang hal tersebut. Karena permintaan Kartini itu dan panggilan untuk berdakwah, beliau lantas menerjemahkan Al Qur'an dengan huruf Arab Pegon (bahasa Jawa) agar tidak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Al Qur'an itu diberi nama "Faidh al-Rahman fi Tafsir Al Qur'an". Inilah tafsir pertama di Nusantara dalam Bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari Surat Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kitab ini dihadiahkan kepada Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM. Djojodiningrat, Bupati Rembang. Sejak saat itu mulailah Kartni mempelajari Islam dalam arti sesungguhnya.
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya, yakni Surat Al Baqarah ayat 257 yang menerangkan bahwa Allah-lah yang membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan menuju cahaya (Minnadh-Dhulumaati ilan Nuur). Kartini amat terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. Kisah ini otentik dinukil dari Prof. KH. Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak (menantu sekaligus staf ahli Kiai Sholeh Darat).
Kitab Kiai Sholeh walaupun tidak selesai 30 juz, dicetak pertama kalinya di Singapura pada tahun 1894 dala dua jilid ukuran folio. Masih banyak lagi tulisan beliau dalam berbagai bidang Ilmu lainnya. Karya-karya beliau hingga kini masih dibaca di Pesantren-pesantren dan Majelis Ta'lim di Jawa. Bahkan kaum Muslim Pattani di Thailand Selatan juga memakai kitab tafsir Kiai Sholeh sebagai salah satu acuan.
Seperti Ulama' pada umumnya, Kiai Sholeh Darat sangat bersahaja dan tawadhu'. Akhlaknya sangat jauh dari kesombongan. Di semua kitab yang ditulis, beliau selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab. Di mukadimah kitabnya selalu tertulis "buku ini dipersembahkan bagi orang awam dan bodoh seperti saya". Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam terbitan Toha dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Atha'illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang muridnya agar giat menuntut Ilmu. Belia berkata: "Inti sari Al Qur'an adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan aklnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat". Beliau mengungkapkan bahwa orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya akan mudah jatuh pada keyakinan sesat.
"Iman orang taklid tidak sah menurut Ulama' Muhaqqiqin (yang kompeten), demikian tegas beliau. Kata-kata tersebut tersurat dalam kitab Tarjamah Sabil al-'Abid 'Ala Jauharah al-Tauhid karya beliau. Lebih jauh lagi beliau mewanti-wanti masyarakat agar tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat, seperti Sholat dan amalan fardhu lainnya.
Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai ahli Ilmu Kalam. Beliau adalah pendukung teologu Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidhi. Dalam kitab Tarjamah Sabil al-'Abid 'Al Jauharah at- Tauhid, beliau mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulullah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan (sepeninggal Rasul SAW), dimana hanya satu gologan yang selamat. Menurut beliau, yang dimalsud Rasul SAW golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti apa yang dilakukan oleh beliau (Rasul SAW), yaitu melaksanakan pokok-pokok ajaran Ahlusunnah Wal Jama'ah yang dirumuskan Al-Asy'ariyah dan Maturidiyah. Sebagai Ulama' yang berpikiran maju, beliau senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras sebelum bertawakal (menyerahkan semuanya kepada Allah SWT). Beliau sangat mencela orang-orang yang tidak mau bekerja keras sebelum bertawakal hanya karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Beliau juga tidak setuju dengan teori kebebasan berpikir yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.
Kiai Sholeh Darat lahir di Dukuh Kedung Jumbleng Kecamatan Mayong, Jepara sekitar tahun 1820 (1235 H). Kata "Darat" di belakang nama Kiai Sholeh adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat ia tinggal, yakni Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Ayah beliau KH. Umar adalah seorang ulama' terkemuka yang pernah menjadi orang kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda di wilayah pesisir utara. Setelah mendapat bekal ilmu agama dari Sang Ayah, KH. Sholeh kecil mulai mengembara, belajar daru satu ulama' ke ulama' lain. Guru-guru beliau antara lain: KH. Syahid Waturoyo Pati, KH Ishaq Damaran, Habib Ahmad Bafaqih Baalawy, dan KH Abdul Ghani Bima.
Bersama sang Ayah beliau kemudian pergi ke Singapura dan berlanjut naik haji ke Mekah. Belakangan beliau mendapat kabar bahwa Ayah beliau wafat di tanah suci. Kiai Sholeh kemudian mereguk ilmu dari sejumlah ulama' besar di Haramain, diantaranya Syekh Muhammad al-Murqi, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi, Sayyid Muhammad Saleh bin Sayyid Abdur Rahman az-Zawawi, Syekh Yusuf al-Mishri, Syekh Zahid, dan Syekh Umar as-Syami. Beliau berhasil memperoleh ijazah dari mereka semua dan ditahbiskan menjadi guru besar di Haramain.
Kiai Sholeh Darat wafat di Semarang pada tanggal 18 Desember 1903, bertepatan dengan tanggal 28 Ramadhan 1321 H dalam usia 83 tahun. Sampai saat ini makam beliau di pemakaman Bergota Semarang tidak pernah sepi dari peziarah. Setiap kali haul juga senantiasa ramai dihadiri oleh para pecinta beliau dai berbagai daerah. Beliau memang telah menjadi ikon Kota Semarang. Dalam kitab-kitabnya, beliau membubuhkan nama Syekh Muhammad as-Samarani.
Demikianlah sobat apa yang bisa saya bagikan pada kesempatan ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari beliau. Tak lupa pula mohon maaf yang sebesar-besarnya bilamana ada kesalahan dan kekhilafan dalam hal penulisan. Sekian dan terima kasih!


Tulisan ini telah dibaca sebanyak 5973 kali, jika menurut anda tulisan saya ini bermanfaat silahkan dibagikan atau disalin dengan menyertakan sumbernya. Terima Kasih!

Tulisan Terbaru
123»
Menu Navigasi
Kategori Bacaan
Data Statistik
Online: 1 Pengunjung
Speed: Secs.

Snack's 1967